Cermin: MAHAR 5 RIBU RUPIAH

 MAHAR 5 RIBU RUPIAH


"Mahar cuman 5 ribu rupiah? Kok, keper4wananmu semurah itu? Mahalan ikan asin," ejek Sohwa.

"Cantik-cantik maharnya, kok, 5 ribu? Dasar anak jaman sekarang. Tahunya cuma cinta-cintaan aja, nggak mikirin masa depan. Nyari suami seharusnya yang dipentingin itu ya isi dompet, bukan hanya muka ganteng." Bu Tari--ibunya Sohwa menceramahiku.
Mereka adalah tetangga kami. Sebelum-sebelumnya kelihatan baik, tetapi dengan kejadian ini, aku jadi mengenal bagaimana ibu dan anak itu yang sebenarnya.
Jika boleh jujur, sebenarnya ini bukanlah keinginanku, tetapi apa boleh buat. Aku dan pria asing itu sehari yang lalu berteduh di bangunan bekas ruko karena kehujanan. Entah siapa yang melaporkan dan mengarang cerita yang tidak-tidak, hingga kemudian kami berdua didatangi warga, dituduh telah melakukan hal yang tak seno_noh, lalu dipaksa untuk menikah.
Sampai saat ini Ayah belum mau untuk berbicara denganku. Ayah percaya pada tuduhan orang-orang, tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.
Hidupku sudah hancur sekarang. Sudah banyak air mata yang kukeluarkan sejak mendapatkan tuduhan ke_ji sampai akad dilangsungkan.
"Eh, ibu-ibu, sini! Ada pengantin baru, nih." Bu Tari memanggil teman-temannya.
Aku yang keluar hanya untuk membuang samp4h berakhir dengan diperlakukan seperti samp4h oleh mereka.
"Nggak nyangka banget, ya. Ersyila ini kelihatannya aja yang anak baik-baik."
"Iya, untung belum sempat kujodohkan dengan putraku. Kalau tidak, bakalan si4l keluarga kami punya menantu seperti dia."
Kedua telapak tanganku mengepal erat. Menyembunyikan rasa sedih ini lewat wajah tanpa ekspresi.
"Perempuan nggak tahu malu," tukas yang lain.
"Lihat aja wajahnya. Seolah tidak ada yang terjadi, padahal dia sudah m3ncem4ri nama baik keluarganya sendiri, bahkan nama baik lingkungan kita."
"Sarjana, tapi kelakukan durj4na," timpal yang lain.
Sontak tawa memenuhi indera pendengaranku. Ibu-ibu itu bahagia sekali dengan hinaan demi hinaan yang mereka lontarkan.
Kulihat Ibu berdiri di teras. Setelah itu masuk, dan menutup pintu. Dampak dari kejadian ini tak hanya padaku, tetapi juga pada keluargaku. Terutama Ayah dan Ibu. Mereka semua harus hidup dengan menanggung malu dikarenakan kesalahpahaman yang terjadi.
Selang beberapa saat, mobil berwarna hitam berhenti di dekat kami. Seorang pria turun dari kendaraan tersebut.
"Nyuri di mana tuh mobil." Sohwa kembali melontarkan sebuah tu_duhan. Pasalnya pria yang baru saja datang adalah dia yang tempo hari mengesahkanku dalam sebuah ijab kabul.
Semalam, setelah Maghrib, pria itu izin pulang dengan meninggalkan kartu tanda pengenalnya sebagai j4m!nan. Saat ini dia kembali dengan mobil mewah. Sulit dimengerti.
"Ya, nyuri. Nyuri mobil miliknya sendiri." Sebuah suara membuat cekikikan Sohwa terhenti.
Wanita dan lelaki yang terlihat seperti pasangan suami istri berjalan mendekat ke arah kami.
Kelihatan tidak asing, tapi di mana aku pernah melihatnya?
"Bapak bukannya pemilik pabrik konveksi itu, ya?"
"Iya, dan dia putra bungsu saya, Zhafran Zavier Akhtar," ujar pria yang janggutnya mulai tampak memutih tersebut seraya melirik ke arah pria dengan kemeja berwarna navy yang tengah berdiri di sampingku.
Kenyataan itu membuat Sohwa, ibunya, dan beberapa ibu yang lain membulatkan mata. Sementara aku sedikit bergeser, menjauh dari sang pria.
Kucub!t pipi sebelah kanan, berpikir bahwa ini adalah mimpi, tetapi s4kit. Zhafran mendekat, menambahi cub!tan kecil di pipi kiriku seraya menatap lekat.
Dinaikkannya kedua alis, yang lantas detik itu juga kubalas dengan gerakan serupa.
"Aaa, Ibuuu, pengen diger3bek juga, terus langsung dinikahin," rengek Sohwa tiba-tiba.
"Heh, ngaco kamu!" Ibunya Sohwa menamp4r keras lengan putrinya.
---
Judul : MAHAR 5 RIBU RUPIAH
Username KBM App : OryzaSativa07
Part 1
Link part lengkap
👇

Post a Comment

0 Comments

loading...